wxgchy – Selama puluhan tahun, pekerja rumah tangga (PRT) berada di wilayah “abu-abu” dalam sistem ketenagakerjaan Indonesia. Mereka bekerja, menghasilkan nilai ekonomi, bahkan menjadi tulang punggung bagi banyak keluarga, namun tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai, terutama dalam hal upah.
Dengan disahkannya Undang-Undang tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT), negara mulai memberikan pengakuan yang lebih tegas terhadap posisi PRT. Salah satu aspek paling krusial dalam regulasi ini adalah pengaturan upah, yang menjadi indikator utama keadilan dan kesejahteraan pekerja.
Realitas Lama: Upah PRT Tanpa Standar
Sebelum adanya UU PPRT, sistem pengupahan PRT cenderung tidak terstruktur. Dalam praktiknya:
- Upah ditentukan sepihak oleh pemberi kerja
- Tidak ada standar minimum nasional
- Tidak ada acuan resmi terkait jam kerja dan kompensasi
- Banyak PRT menerima upah di bawah kebutuhan hidup layak
Bahkan, dalam beberapa kasus:
- Upah dibayar tidak tepat waktu
- Tidak ada kejelasan potongan gaji
- Pekerjaan tambahan tidak diikuti peningkatan upah
Situasi ini memperlihatkan adanya ketimpangan relasi kerja yang cukup signifikan antara PRT dan pemberi kerja.
UU PPRT: Mengubah Paradigma Pengupahan
Hadirnya UU PPRT membawa perubahan mendasar:
PRT tidak lagi dipandang sebagai “pembantu informal”, tetapi sebagai pekerja yang memiliki hak dan kewajiban yang dilindungi hukum. Dalam konteks upah, UU ini menegaskan bahwa:
- PRT berhak mendapatkan upah yang layak
- Sistem pengupahan harus jelas dan transparan
- Hubungan kerja harus berbasis perjanjian
Dengan demikian, pengupahan tidak lagi bersifat sukarela, tetapi menjadi bagian dari sistem kerja yang formal.
Prinsip-Prinsip Pengupahan dalam UU PPRT

UU PPRT tidak hanya mengatur bahwa PRT harus dibayar, tetapi juga menetapkan prinsip-prinsip penting:
Kelayakan Hidup
Upah harus mempertimbangkan kebutuhan dasar PRT, seperti:
- Konsumsi sehari-hari
- Tempat tinggal (jika tidak disediakan)
- Kesehatan
- Transportasi
Artinya, upah tidak boleh hanya sekadar “imbalan kerja”, tetapi harus mampu menunjang kehidupan yang layak.
Kesepakatan yang Setara
Upah ditentukan melalui kesepakatan antara PRT dan pemberi kerja. Namun, penting dicatat:
- Kesepakatan harus dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan
- Tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan atau keterbatasan PRT
Ini menjadi langkah penting untuk mengurangi ketimpangan posisi tawar.
Transparansi dan Kepastian
Semua hal terkait upah harus jelas sejak awal, termasuk:
- Besaran gaji
- Waktu pembayaran (mingguan/bulanan)
- Potongan (jika ada)
- Sistem lembur
Kejelasan ini membantu mencegah konflik di kemudian hari.
Keadilan dan Non-Diskriminasi
PRT tidak boleh menerima perlakuan diskriminatif dalam pengupahan, baik berdasarkan:
- Gender
- Usia
- Latar belakang sosial
Prinsip ini menegaskan bahwa semua pekerja memiliki nilai yang setara.
Apakah UU PPRT Mengatur Upah Minimum?
Berbeda dengan sektor formal, UU PPRT tidak menetapkan angka upah minimum secara eksplisit seperti UMP atau UMK. Namun, bukan berarti tanpa standar. Upah PRT dapat mengacu pada:
- Kondisi ekonomi daerah
- Beban kerja
- Jam kerja
- Kompleksitas tugas
Pemerintah berperan dalam:
- Menyusun pedoman pengupahan
- Memberikan rekomendasi standar
- Mendorong praktik yang adil
Fleksibilitas ini penting, mengingat kondisi kerja PRT sangat beragam di setiap rumah tangga.
Hubungan Upah dengan Jam dan Beban Kerja
Salah satu perubahan penting dalam UU PPRT adalah pengakuan terhadap jam kerja. Sebelumnya, banyak PRT bekerja tanpa batas waktu yang jelas. Kini:
- Jam kerja harus disepakati
- PRT berhak atas waktu istirahat
- Pekerjaan tambahan harus diperhitungkan
Jika beban kerja meningkat, maka secara logis upah juga harus disesuaikan.
Kontrak Kerja: Fondasi Baru Pengupahan
UU PPRT mewajibkan adanya perjanjian kerja, baik tertulis maupun lisan (meskipun tertulis lebih dianjurkan). Isi kontrak meliputi:
- Besaran upah
- Tugas pekerjaan
- Jam kerja
- Hak cuti dan istirahat
- Mekanisme penyelesaian sengketa
Dengan kontrak ini:
- Hubungan kerja menjadi lebih profesional
- Hak dan kewajiban lebih jelas
- Risiko konflik berkurang
Tantangan Nyata di Lapangan
Meskipun regulasi sudah ada, implementasinya menghadapi berbagai tantangan:
Lingkungan Kerja Privat
Karena bekerja di rumah, pengawasan sulit dilakukan oleh negara.
Posisi Tawar yang Lemah
Banyak PRT masih bergantung pada pekerjaan, sehingga sulit menolak upah rendah.
Minimnya Literasi Hukum
Sebagian PRT belum memahami hak-haknya secara penuh.
Variasi Kondisi Ekonomi
Perbedaan biaya hidup antar daerah membuat standar upah sulit diseragamkan.
Budaya Lama yang Masih Kuat
Masih ada anggapan bahwa PRT adalah “bagian keluarga”, sehingga aturan formal dianggap tidak perlu.
Dampak Positif yang Diharapkan
Jika UU PPRT dijalankan secara konsisten, beberapa dampak positif dapat muncul:
- PRT mendapatkan upah yang lebih layak
- Hubungan kerja menjadi lebih profesional
- Eksploitasi tenaga kerja berkurang
- Kesejahteraan pekerja meningkat
Selain itu, pengakuan terhadap pekerjaan domestik juga akan:
- Meningkatkan martabat PRT
- Mengubah cara pandang masyarakat
- Mendorong kesetaraan sosial
Peran Pemerintah, Pemberi Kerja, dan PRT
Keberhasilan implementasi UU ini membutuhkan kolaborasi:
Pemerintah
- Menyusun aturan turunan
- Melakukan sosialisasi
- Menyediakan mekanisme pengaduan
Pemberi Kerja
- Memberikan upah yang adil
- Membuat kontrak kerja
- Menghormati hak PRT
PRT
- Memahami hak dan kewajiban
- Berani menyuarakan ketidakadilan
- Meningkatkan keterampilan kerja
Perspektif Lebih Luas: Pengakuan terhadap Pekerjaan Domestik
Selama ini, pekerjaan domestik sering dianggap “tidak bernilai ekonomi”, padahal kontribusinya sangat besar. PRT:
- Membantu rumah tangga berjalan efisien
- Mendukung produktivitas keluarga
- Berperan dalam sistem sosial secara keseluruhan
Dengan pengaturan upah dalam UU PPRT, negara secara tidak langsung mengakui bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan yang layak dihargai secara ekonomi. Meski progresif, beberapa hal tetap perlu diperhatikan:
- Tanpa pengawasan efektif, aturan bisa sulit ditegakkan
- Kesepakatan upah berpotensi tetap timpang jika posisi tawar tidak seimbang
- Perlu indikator yang lebih jelas tentang “upah layak”
Karena itu, regulasi harus terus disempurnakan.
Pengaturan upah dalam UU PPRT merupakan langkah penting dalam menciptakan keadilan bagi pekerja rumah tangga. Meskipun tidak menetapkan angka pasti, UU ini memberikan kerangka yang kuat tentang bagaimana upah harus ditentukan layak, transparan, dan berdasarkan kesepakatan yang adil.
Tantangan terbesar kini bukan lagi pada regulasi, tetapi pada implementasi. Jika semua pihak menjalankan perannya dengan baik, UU PPRT dapat menjadi tonggak penting dalam membangun sistem kerja yang lebih manusiawi dan berkeadilan di mana setiap pekerjaan, termasuk pekerjaan domestik, dihargai sebagaimana mestinya.





