Ringkasan Cepat:
- KPK menyebut pengadaan alat komunikasi handy talky (HT) untuk penanganan karhutla termasuk yang diduga dikorupsi dalam penggunaan dana siap pakai BNPB.
- Lima orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. KPK menyita barang bukti sekitar Rp5,47 miliar.
- Total pengadaan yang diduga terafiliasi dengan salah satu tersangka mencapai sekitar Rp148 miliar. Rincian paket HT belum dibuka.
Jakarta, 17 Oktober 2026 — KPK ungkap pengadaan HT karhutla diduga ikut dikorupsi di BNPB. Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menyampaikannya di Gedung Merah Putih, Jumat (16/10/2026). Pengungkapan itu menyusul operasi tangkap tangan di lingkungan BNPB pada 13 Oktober 2026.
Mengapa Ini Penting?

Dana siap pakai (DSP) adalah dana cadangan pemerintah untuk keadaan darurat bencana. Menurut detikcom, KPK menyebut DSP pernah dipakai untuk karhutla di Kalimantan dan Papua. Dana yang sama juga dipakai untuk gempa besar di Nusa Tenggara Timur serta banjir di Aceh dan Sumatera.
Artinya, dugaan penyimpangan ini menyentuh dana yang dirancang untuk bergerak cepat saat bencana. HT sendiri alat komunikasi radio yang lazim dipakai untuk koordinasi di lapangan.
“Salah satunya adalah pengadaan alat komunikasi atau HT.”
— Achmad Taufik Husein, Plt Direktur Penyidikan KPK, 16 Oktober 2026
Taufik menyebut ada pengadaan barang dan jasa lain yang juga diduga dikorupsi. Menurut Antara, KPK belum bisa memerinci pengadaan lain itu kepada publik.
Bagaimana Dana Siap Pakai Bisa Dicairkan?

Menurut penjelasan Taufik di detikcom, pencairan DSP bersifat fleksibel tetapi harus memenuhi salah satu dari empat syarat. Syarat pertama adalah penetapan status keadaan darurat bencana. Kedua, penetapan status keadaan tertentu.
Ketiga, pertimbangan risiko bencana berdampak yang ditetapkan Kepala BNPB. Keempat, kebutuhan bantuan kemanusiaan ke luar negeri.
KPK menyebut BNPB menunjuk sejumlah penyedia lewat penunjukan langsung dalam rencana kerja kolaboratif. Tujuannya agar pengadaan berjalan cepat saat status darurat ditetapkan. Pola inilah yang kini ditelusuri penyidik.
Dua Klaster dan Lima Tersangka

Menurut Taufik, perkara ini dibagi dua klaster: dugaan konflik kepentingan dan dugaan suap dalam pengadaan. KPK menetapkan lima tersangka sehari setelah OTT, yakni pada 14 Oktober 2026.
| Tersangka | Peran yang disebut KPK | Klaster |
| Bima Setiawan | Tenaga ahli sekaligus adik mantan Kepala BNPB Suharyanto | Konflik kepentingan |
| Gabriel Purwaka Sigit | Pejabat pembuat komitmen, Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan | Suap |
| Richard Erlangga | Tenaga ahli Kepala BNPB | Suap |
| Gery Prasetiawan | Direktur PT Trans Lintas Selaras | Suap |
| Syifa Nrika Ghifarin | Pihak swasta | Suap |
Pembagian klaster dan peran di atas merujuk pada laporan Literasi Hukum Indonesia dan Antara. Suharyanto tidak termasuk lima nama yang diumumkan sebagai tersangka.
Dugaan Aliran Dana dan Barang Bukti
Di klaster konflik kepentingan, KPK menduga sejumlah vendor penunjukan langsung terafiliasi dengan Bima. Menurut detikcom, total nilai pengadaan itu sekitar Rp148 miliar untuk periode 2024–2026.
KPK menduga dana yang mengalir ke perusahaan terafiliasi dipakai untuk kepentingan pribadi. Salah satu contohnya pembelian saham PT Medela Potentia oleh PT Alfa Veritas Energizer. Kepemilikannya 150,4 juta lembar atau 1,07 persen, bernilai sekitar Rp31 miliar per 13 Oktober 2026.
Soal barang bukti, JawaPos melaporkan KPK menyita sekitar Rp5,47 miliar. Rinciannya:
- 7.500 dolar AS dan 9.000 dolar Singapura
- Uang rupiah Rp3,35 miliar
- 56 keping emas seberat 133 gram, senilai Rp315,8 juta
- Tabungan emas 192 gram, senilai Rp452 juta
- Aset kripto sekitar Rp1,10 miliar
Reaksi dan Respons
Hingga artikel ini diperbarui, tanggapan para tersangka dan BNPB atas dugaan pengadaan HT belum diperoleh. Status tersangka merupakan bagian dari proses perkara, bukan putusan bersalah. Pembelaan para pihak masih terbuka di tahap penyidikan hingga pengadilan.
Kasus ini juga menambah daftar penindakan KPK tahun ini. Pembaca bisa menengok OTT KPK terhadap Bupati Lombok Barat dan kasus Wamen Imigrasi Silmy Karim yang berstatus tersangka KPK sebagai pembanding.
Perdebatan soal sanksi bagi koruptor juga ramai. Salah satunya lewat tanggapan Yusril atas usulan hukuman mati koruptor.
Kronologi Peristiwa
| Waktu | Kejadian | Sumber |
| 13 Okt 2026 | KPK menggelar OTT di lingkungan BNPB, 15 orang diamankan | Antara, Republika |
| 14 Okt 2026 | KPK menetapkan lima tersangka | Literasi Hukum, Viva |
| 14–15 Okt 2026 | Penggeledahan ruang Kepala BNPB dan sejumlah ruangan lain | Antara, Viva |
| 16 Okt 2026 | KPK mengungkap HT karhutla masuk pengadaan yang diduga dikorupsi, dan menyita bukti Rp5,47 miliar | detikcom, JawaPos |
| 16–17 Okt 2026 | KPK berkoordinasi dengan Puspom TNI soal peran mantan Kepala BNPB | Media Indonesia |
Apa Selanjutnya?
KPK menyatakan masih mendalami dokumen pengadaan. Menurut JawaPos, Taufik berjanji memperbarui informasi.
“Nanti akan kami update kembali.”
— Achmad Taufik Husein, Plt Direktur Penyidikan KPK, 16 Oktober 2026
Media Indonesia melaporkan KPK akan bersurat kepada Panglima TNI. Tujuannya menyinergikan penyidikan karena perkara ini menyangkut prajurit aktif. Perkembangan itu patut dipantau karena bisa memengaruhi arah penyidikan.
Karhutla sendiri punya dimensi hukum lain, termasuk pidana lingkungan. Pembaca yang ingin latar belakangnya bisa membaca pembahasan hukum lingkungan UU No. 32 Tahun 2009.
Tersangka punya jalur hukum untuk menguji penetapan statusnya. Contohnya pada praperadilan yang ditolak dalam kasus eks Jampidsus.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang diungkap KPK soal HT karhutla?
KPK menyebut pengadaan HT untuk penanganan karhutla termasuk yang diduga dikorupsi dalam penggunaan dana siap pakai BNPB.
Siapa saja tersangka kasus BNPB ini?
Bima Setiawan, Gabriel Purwaka Sigit, Richard Erlangga, Gery Prasetiawan, dan Syifa Nrika Ghifarin.
Berapa nilai pengadaan HT yang diduga dikorupsi?
KPK belum membuka nilai paket HT. Angka Rp148 miliar adalah total pengadaan yang diduga terafiliasi dengan Bima, bukan nilai HT saja.





